KELOMPOK 2 :
1.
DAMAYANTI
2.
ELLY OCTAVIA
3.
NANA MARDIANA
4.
RISKI RETNO.S
KELAS :
XI ADM. PERKANTORAN
2
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi
wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul "BUDAYA SUKU SABU".
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak bersangkutan yang telah memberikan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul "BUDAYA SUKU SABU".
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak bersangkutan yang telah memberikan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar skripsi ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Jakarta, 02 Agustus 2013
Hormat Kami,
Penulis
SUKU SABU
A.
ASAL KATA SABU
Orang sabu pada umumnya menamakan dirinya do hawu.Pulau sabu mereka sebut rai
hawu. Do berasal dari kata dou, artinya orang atau manusia. Jadi
arti kata dohawu adalah orang hawu. Rai artinya tanah atau negeri, jadi rai hawu artinya tanah hawu.Bahasa orang
sabu disebut li hawu. Segala apa saja
yang dipandang yang asli atau berasal dari sabu selalu dikenakan kata sandang hawu, sedangkan yang berasla dari luar
atau bukan asli sabu dikenakan kata sandang jawa.
Kata sandang hawu sudah dipergunakan sejak zaman dahulu kala yaitu sejak
generasi ke-8 orang sabu yang bernama hawu
miha.Hawu mihasama artinya hawu bin miha atau hawu anak dari miha. Nama
beliaulah yang dipakai menjadi nama dari do
hawu atau rai hawu.
Ketika bangsa portugis dan belanda tiba di sabu, kata hawu
telah mengalami perubahan dalam melafalkannya.Dalam bahas tulisan, orang
portugis menulis kata hawu itu savo,
sedangkan orang belanda menulisnya dengan kata savu.Kata savo
dilafalkan orang portugis menjadi sabo,
sedangkan orang belanda tetap savu.
Bahasa sabu tidak mengenal lafal kata yang berhuruf F atau V. mereka melafalkan
F atau V dengan bunyi B atau P. oleh karena itu, pada zaman penjajahan belanda
meskipun dalam bahasa tulisan kata hawu
ditulis secara resmi savu,
akan tetapi do hawu merasa lebih mudah melafalkan kata sabu.Lebih dekat pada lafal portugis sabo daripada savu.
Meskipun secara resmi pemerintah menulis kata savu,akan tetapi orang sabu lebih senang melafalkan bukan
dengan sabo atau savu, melainkan sabu sebab dalam
bahasa asli hawu, ada bunyi U dan lafal itu lebih cocok dengan lidah mereka.
Sampai sekarang kata sabu tetap dipakai baik dalam bahasa
tulisan maupun bahasa lisan. Meskipun demikian kata hawu, rai hawu, do hawu, dan li hawu masih tetap dipakai ketika
orang sabu bercakap-cakap dalam bahasa sabu,baik mereka yang bermukim di dalam
maupun diluar kepulauan sabu.
B. KEADAAN UMUM SABU
1. LETAK
GEOGRAFIS
Kepulauan sabu terletak diantara
pulau sumba, pulau rote dan pulau timor, pada 1210 45’ sampai 122 4’ BT dan 10 27’ sampai 10 38’ LS.
Kepulauan ini terdiri dari tiga buah pulau yaitu pulau sabu, raijua dan dana.
Namun pulau yang berpenghuni adalah pulau sabu dan pulau raijua. Menurut cerita
orang tua-tua, sebenarnya ada pulau yang keempat yang bernama rai kelara, namun
pulau ini tenggelam ketika terjadi air bah yang disebut lale dahi.
Kecamatan sabu terdiri dalam lima wilayah kecamatan yaitu :
1.
Sabu Timur dengan ibukota Below
2.
Sabu Barat dengan ibukota Mehara
3.
Sabu Utara dengan ibukota Seba
4.
Sabu selatan dengan ibukota Liae
5.
Raijua dengan ibukota Walurede
2. KEADAAN
ALAM DAN IKLIM
Keadaan alam di pulau sabu relative
sama. Ada sedikit perbedaan ialah bahwa pada wilayah bagian utara relative
lebih jauh karena mempunyai sejumlah mata air dengan beberapa buah sungai yang
berair sepanjang tahun,sedangkan pada wilayah baggian selatan kering dan tandus
serta tidak mempunyai mata air sebaik seperti dibagian utara. Hampir seluruh
kepulauan ini terdiri dari tanah putih/kapur yang berbukit-bukit dan tanah
merah yang kurang subur kecuali sedikit tanah datar dibagian utara.Di sabu
tidak ada gunung.Yang ada hanyalah beberapa buah puncak bukit yang tingginya
kira-kira 250 m. keadaan iklimnya ditandai oleh musim kemarau yang panjang yang
berlangsung dari bulan maret-november. Musim hujan mulai dari bulan
desember-februari
3. PENDUDUK
DAN MATA PENCAHARIAN
1. Penduduk
a.
Menurut Jumlah
Menurut data tahun 1998 dari kantor
statistic kabupaten kupang penduduk kepulauan sabu berjumlah 63.617 jiwa.
Penyebaran pada 3 buah kecamatan adalah sebagai berikut : kecamatan sabu barat
37.623 jiwa, kecamatan Sabu Timur 19.407 jiwa dan di kecamatan Raijua 6.587
jiwa. Penduduk kepulauan ini pada tahun 1987 tercatat sebanyak 57.809 jiwa.Data
diatas menunjukkan bahwa pertambahan penduduk selama 11 tahun hanya 5.808 jiwa
saja.Tingkat perkembangan penduduknya rendah.
b. Menurut Kelamin
Laki-laki 31.969 jiwa dan perempuan 31.648 jiwa.
c. Menurut Agama
Islam 390 jiwa, khatolik 704 jiwa
protestan 47.691 jiwa dan agama suku 14.077 jiwa pada tahun 1988 penganut agama
suku 20.813 jiwa selama 11 tahun terjadi penurunan jumlah penganut agama suku
sebanyak 6.736 jiwa.
2. Mata
Pencaharian
Mata pencaharaian utama orang sabu
adalah petani.Pada umumnya mereka bekerja sebagai peladang dan penyadap lontar.
Menurut data tahun 1988, dari antara penduduk yang berjumlah 57.809 jiwa,
terdapat 33.112 orang petani, pegawai 3.392 orang, tukang 142 orang, nelayan
125 orang dan pedagang 65 orang. Pola kegiatan para petani masih terikat pada
siklus kegiatan menurut kalenndar lunar yang sangat erat kaitannya dengan adat
istiadat yang bersumber pada konsep religi dari agama suku orang sabu.Hasil
produksi pertanian sangat tergantung pada curah hujan serta tekhnologi
pertanian yang sederhana.Pada beberapa decade terakhir terdapat sedikit
kemajuan oleh adanya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan LSM.
C. ADAT
ISTIADAT DALAM PERKAWINAN
Kenoto
dalam perkawinan adat sabu
Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai kebiasaan dan adat
budaya. Pada setiap perkawinan selalu didahului dengan tata cara kebiasaan adat
yang berlaku dari generasi ke generasi, baik secara lengkap dan utuh, maupun
sebagian Karena dimodifikasi/disesuaikan dengan perkembangan. Demikian juga
dengan dikalangan suku sabu, setiap kali terjadi perkawinan acara kenoto itu
tidak bisa diabaikan begitu saja, entah itu perkawinan antara mampu atau tidak
mampu.
v Pengertian Kenoto
Istilah “kenoto” adalah bahasa asli sabu, arti sebenarnya dari kenoto itu
ialah tempat sirih yang terbuat dari daun lontar dan khusus dipakai oleh kaum
pria. Sedangkan tempat sirih pinang yang khusu dipakai oleh kaum wanita adalah
“kepepe”. Kedua-duanya terbuat dari daun lontar,dan sesekali juga ada yang
dibuat dari daun pandan, yaitu sejenis pohon yang tumbuh di tepi sungai.
Seorang pria yang sudah menanjak akhil baliq, pada waktu
dulu biasa ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Memotong
gigi/memasah gigi
Mereka yang tidak memotong gigi akan
menerima sindiran, cercaan dan bahasa-bahasa lainnya yang kurang enak didengar.
Sering dijuluki “bergigi kuda,pagar tidak serasi dan sebagainya”. Memotong gigi
sekaligus menyerasikan letak gigi. Upacara menggososk gigi atau memasah gigi diawali
dengan mengantarkan daun sirih dan pinang kepada orang yang dimintai memasah
giginya. Pemasahan dilakukan dengan menggosokkan batu yang disebut wowadu keahe/wowadu haga ke permukaan gigi, sementara anak yang dipasah
itu berbaring. Umumnya pemasahan dilakukan menjelang hari perkawinan.Sesudah
lamaran terjadi si gadis juga memasahkan pula.
b. Menyandang
tempat sirih
Setelah pemotongan gigi, diikuti
dengan kebiasaan memamah sirih pinang. Sirih pinang itu selalu di kantongi
kemana saja pergi. Tempat menaruh sirih pinang itulah yang dinamai “kenoto”.
Kedua ciri tersebut diatas adalah kisah awal mulanya
keberadaan kenoto dan itu pada zaman terdahulu.Pada perkembangan selanjutnya,
kenoto dipakai sebagi symbol dalam acara perkawinan adat sabu. Dikatakan sebagai
symbol karena digunakan langsung tempat aslinya yang biasa dipakai menaruh
sirih pinang itu tetapi dalam bentuk yang lainseperti dulang/tempat lain yang
kemudian diibungkus rapi dengan kain putih atau kuning lalu dibawa pada waktu
acara itu akan berlangsung.
Barang-barang/benda yang biasa diminta sebagai kenoto dan
kelengkapannya adalah sebagai berikut :
1. Isi
Kenoto
Isi kenoto adalah sejumlah uang yang ditetapkan sesuai
mufakat keluarga wanita. Isi kenoto biasa dipengaruhi oleh :
a.
Status social keluarga wanita
b.
Tingkat pendidikan sang gadis
c.
Jabatan/pekerjaan sang gadis
d.
Keturunan
2. Pili
Dida/Unu Deo
Pili dida ( sesuai artinya orang
pertama dan utama yang mengambil atau mengangkat isi bungkusan/kenoto). Biasanya
pili dida itu adalah saudara laki-laki ibu si gadis atau yang paling berhak
atas diri ibu si gadis.Untuk pili dida itu juga sejumlah uang yang tidak begitu
besar.Selain uang, pili dida wajib menerima binatang hidup (yang
bernafas).Binatang hidup itu mutlak harus ada.Seturut keyakinan orang sabu,
binatang hidup itu sebagai lambing kesuburan. Jikalau keluarga menghendaki
perkawinan itu maka permintaan binatang hidup itu tidak boleh ditolak atau
diabaikan
3. Hau
Kenoto (yang memangku kenoto)
Biasanya yang dipilih adalah do ana ina yang artinya seorang ibu yang
masih bertalian erat hubungan darah/keluarga dengan ibu si gadis. Do ana ina mengandung arti kalau ibu si
gadis meninggal dunia, maka ibu itulah salah satunya yang berhak memandikan
mayat ibu si gadis.
4. Ihi
Walli ( Bada Walli )
Ihi walli artinya belis yaitu
sejumlah binatang yang diserahkan sebagai ungkapan perasaan dan ikatan bathin
dari pihak lelaki.Besar atau jumlahnya sesuai belis yang berlaku waktu ibu atau
neneknya dahulu.Belis itu sudah termasuk dengan satu ekor untuk pili dida. Jumlah itu pantang dilebihkan
atau dikurangi dari belis ibu atau neneknya, karena sesuai kepercayaan orang
sabu perempuan yang meminta belis melebihi ibu atau neneknya akan ditimpa
musibah atau malapetaka berupa penyakit yang dahsyat yaitu badanya akan
luka-luka sampai seluruh tubuhnnya hancur berantakkan (ta habba ta wugu )
5. Emas
Tidak semua orang sabu memakai emas
sebagai belis atau isi kenoto, hal itu banyak berlaku pada keturuna
tertentu.Mereka dari keluarga yang tidak menimbang emas, pantang memintanya.
Karena hal tiu sudah merupakan ketentuan/syarat, maka mereka yang keturunan
penimbang emas berhubung emas itu sendiri susah didapat dan juga harga emas
begitu tinggi maka ditempuh dengan kebijaksanaan yakni tidak menuntut besarnya
jumlah gram emas yang diminta tetapi cukup seadanya saja, tetapi tetap
diusahakan dan harus ada walaupun kecil sekalipun, sehingga syarat atau
ketentuan tidak dianggap disepelekan.
6. Sarung
dan Selimut Sabu
Dalam seni budaya suku Sabu yang populer adalah seni tari
dan tenun ikat. Seni tari antara lain padoa dan ledo hau. Padoa ditarikan pria
dan wanita sambil bergandengan tangan, berderet melingkar, menggerakkan kaki
searah jarum jam, dihentakkan sesuai irama tertentu menurut nyanyian meno pejo,
diiringi pedue yang diikat pada pergelangan kaki para penari. Pedue ialah
anyaman daun lontar berbentuk ketupat yang diisi kacang hijau secukupnya
sehingga menimbulkan suara sesuai irama kaki yang dihentak-hentakkan. Ledo Hau
dilakukan berpasangan pria dan wanita diiringi gong dan tambur serta
giring-giring pada kaki pria. Hentakan kaki, lenggang dan pandangan merupakan
gerakan utama. Gerakan lain dalam tarian ini ialah gerakan para pria yang
saling memotong dengan klewang yang menjadi perlengkapan tari para pria.
|
tenun
Sabu
|
Tenun ikat mereka yang terkenal
adalah si hawu (sarung sabu) dan higi huri (selimut). Mereka melakukan semua
proses seperti umumnya di Nusa Tengggara Timur. Benang direntangkan pada langa
(kayu perentang khusus) supaya mudah mengikatnya sesuai motif, setelah dilumuri
lilin. Pencelupan dilakukan dengan empat warna dasar yakni biru pekat dan
hitam, diperoleh ramuannya dari nila, merah dari mengkudu dan kuning dari
kunyit. Tenun Sabu yang terkenal adalah motif flora dan fauna serta motif
geometris.
Masyarakat suku Sabu bertahan hidup pada bidang pertanian, terutama di ladang. Mereka menanam beberapa jenis tanaman untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Mereka juga menangkap ikan, membuat hasil kerajinan dan beberapa menjadi pedagang. Selain itu mereka juga memelihara hewan ternak dengan melepaskan ternak tanpa kandang.
Syarat ini
tidak berlaku umum.Syarat ini hanya dikenakan mereka yang “jalan salah”. Jalan
salah dimaksud yaitu sang gadis atau sang pria (calon pasangan suami istri)
terlanjur melakukan hal yang tidak dibolehkan. Hal tidak dibolehkan itu ialah
bahwa mereka sudah hidup berdampingan sebagai layaknya suami istri yang
sebenarnya belum dibolehkan, ialah sang gadis hamil/mengandung sebelum menikah
sah. Karena kesalahan itulah maka sebagi sanksi, pihak pria dikenakan syarat
membawa sarung dan selimut sabu sebagai penutup malu pihak wanita.
D. JENIS TARIAN
1. Pado’a
Tarian pado’a merupakan kegiatan
yang tidak terpisahkan dari ritual adat lainnya seperti Banga Liwu, Buiihi, dan Hole.Tarian ini biasannya dilakukan pada
malam hari sebelum dilakukan kegiatan Buihi
besok harinya. Seperti pada umumnya kegiatan pado’a diawali dengan
ritual-ritual adat yaitu suguhan sirih pinang dan kelapa wangi ( kenana,kellela dan nyiu wau mangngi)
diatas batu persembahan atau wowadu turu.
Sesudah acara pendahuluan ini Mone Pejo
atau tokoh yang dituahkan dan dianggap mengerti tata caranya mulai melakukan
koordinasi dengan para peserrta yang hadir dan sudah siap dengan ketupat yang
dibuat dari daun lontar serta berisi kacang hiau untuk diikat dikaki.
Dalam syair yang dilantunkan oleh Mone Pejo berisi puja dan puji kepada
sang pencipta alam semesta dan para leluhur yang telah memberikan kesuburan,
kemakmuran serta kelimpahan sehingga mereka telah panen hasil tanamannya, baik kacang hijau maupun jagung
serta padi.
Pandangan masyarakat sabu sendiri
terhadap pado’a adalah merupak suatu ajang kebahagiaan terutama kepada
pemuda-pemudi yang dibolehkan untuk saling bergandengan satu sama lainnya atau
dalam bahasa sabu pegai, peggati dengan caranya masing-masing.
Sedangkan manfaat bagi orang tua acara ini merupakan suatu kesempatan bagi
mereka untuk menjajakan jualan hasil kebun/panen.Selain itu juga bagi orang tua
kegiatan pado’a ini juga dijadikan sebagai hasil kebun/panen.selain itu juga
sebagai arena hiburan dan pelepasan lelah setelah mereka mengerjakan berbagai
aktifitasnya. Kegiatan pado’a ini biasanya berlangsung selama 7 hari dan
sesudah acara hole dilaksanakan, oleh
toko adat lokasi tempat, pado’a itu disiram dengan air gula sebagai pertanda
kegiatan pado’a berakhir.
2. Ledo
hawu
Tarian ledo hawu untuk upacara kematian,pernikahan keturunan
raja,menyambut tamu/para pembesar.
3. Pelakonaga
Tarian pelakonaga adalah jenis tarian perkawinan.calon suami
menjemput calon istri.calon istri dilengkapi oleh orangtuanya dengan ayam dan
ternak lainnya serta peralatan kerajinan tenun/harru kabala atau kappe
wangungu. jika istri meninggal lebih dahulu, maka Harru Kabala harus di
kembalikan kepada orangtuanya sebagai tanda bahwa ia telah kembali ke
orangtuanya
.
E. JENIS-JENIS WISATA
1. Wisata
Alam
Gua Liamadira. Peninggalan sejarah di Daieko
kecamatan Mehara Sabu Barat jarak dari kota pelabuhan Seba ± 9 km. panjang
hampir 1 km dan memiliki daya tarik dimana di dalamnya terdapat barang-barang
pusaka yang telah menjadi fosil seperti sepasang meja, kursi, dan tambur,
memiliki sumber air yang lebih besar serta telah terpasangnya stalatit dan
stalakmit.
Benteng ege ( peninggalan inggris ), di Liae,±
25 km dari kota pelabuhan Seba atau 3 km dari kota kecamatan Liae, tempat
dilakukannya berbagai ritual adat seperti tarian Kuda dan Pado’a.
Sumur Maja ( peninggalan sejarah ) di Raijua,
sekitar 4 km dari kota kecamatan Raijua.
Namata, di Seba yang memiliki batu-batuan
megalitik (stalaklit dan stalakmit)
Kelapa maja di Liae berbatasan dengan Mehara.
2. Wisata
Bahari
Pantai Bollow di Sabu Timur yang memiliki
keindahan pasir putih untuk rekreasi (mandi,selam,mincing dan juga terdapat
mutiara).
Pantai Seba, di Seba memilliki pasir putih yang
bagus untuk mandi, berjemur, dan selam. Jarak 2 km dari kota kecamatan
Pantai Lobohede di Mehara, memiliki pantai yang
indah dan gelombang yang besar untuk sky dan selancar.
Pantai Ege di Liae, ± 5 km dari kota kecamatan
atau 25 km dari pelabuhan Seba
Pantai Raijua/Lede Unu, di Raijua ± 1 km dari kota
kecamatan,memiliki pantai yang indah.
Pantai Hego/Wadu Mea,di Liae,untuk selancar, reakreasi
dan mandi.
3. Wisata
Budaya
Banga Liwu, budaya/ritual dimeriahkan dengan
taji ayam antar suku dalam masyarakat
Pacuan kuda/tarian kuda ( pehere djara ), budaya ritual
yang dilakukan oleh sepasang pria dan wanita dengan menunggang kuda yang
dihiasi.
Hole, budaya ritual yang dilakukan untuk
pengantaran hasil panen dan pelepasan perahu hole.
Pado’a budaya/ritual yang dilakukan secara
massal oleh masyarakt sabu apada umumnya.
Ledo Hawu, tarian penyambutan tamu.
F. RUMAH ORANG SABU
Orang sabu membandingkan pulaunya, Rai Hawu, dengan suatu makhluk hidup yang membujur dengan kepalanya
di barat dan ekornya di timur. Mehara di
sebelah barat adalah kepala, Haba dan
Liae di tengah adalah dada dan
perut, sedangkan dimu di timur
merupakan ekor. Selain itu mereka juga menggambarkan pulau itu sebagai perahu.
Bagian barat sabu yaitu Mehara yang
berbukit dan berpegunungan, digolongkan sebagai anjungan tanah ( duru rai ) sedangkan Dimu yang lebih datar dan rendah
dianggap buritannya ( wui rai ).
Rumah sabu dibedakan dalam 2 jenis : rumah sabu asli (amu
hawu) dan rumah asing (amu jawa). Rumah sabu asli berbentuk panggung,ini pun
punya 2 jenis yaitu amu ae nga rukoko serta
amu taga batu. Jenis pertama adalah
rumah yang kedua ujung bubungannya menonjol keluar ke barat dan ke timur
(karena rumah sabu asli memanjang dari barat-timur) dengan bagian atap yang
disebut rukoko (daun leher).
Taga batu adalah dua batang balok melengkung
yang saling dihubungkan salah satu ujungnya sehingga membentuk setengah lingkaran
pada kedua sisi melebar rumah. Ujung balok A (terletak didepan rumah) menindih
ujung balok B (dibelakang rumah) pada sambungannya. Dengan demikian jenis amu ae nga rukoko merupakan kelanjutan
bentuk amu taga batu, karena yang
disebut terdahulu itu juga memakai konstruksi taga batu. Rumah yang tanpa taga
batu dan berlantai tanah digolongkan sebagai rumah asli. Begitu pula rumah
panggung yang bagian dinding pada sisi melebarnya tidak melengkung akibat tidak
konstruksi taga batu. Rumah semacam
ini disebut amu ata (rumah terpotong)
karena bagian sisi-sisinya melebar lurus lempang seakan terpotong.
1. Balai-balai
dan tiang
Rumah sabu memiliki 3 tingkat
panggung (kelaga=balai-balai), yaitu kelaga ae (balai-balai besar) yang
terletak dibalok-balok utama rumah, kelaga
rai (balai-balai tanah) dan kelaga damu (balai balai loteng).
Kelaga
rai letaknya memanjang dibagian depan atau “kanan”
rumah. Bagian “kanan” rumah ditentukan dalam hubungan dengan anjungan (duru) rumah. Apabila anjungan rumah
terletak kearah barat maka bagian “kanan” terletak disebelah utara, sedangkan
jika anjungan rumah terletak ditimur maka bagian “kanan” rumah mengarah ke
selatan, letak balai-balainya ini antara 0,5 hingga 0,75 m di atas tanah dibagi
menjadi 2 yakni kelaga rai duru,
tempat tamu laki-laki diterima oleh warga rumah yang lelaki pula, dan kelaga rai wui, tempat warga pere,puan
rumah itu menerima tamu perempuan. Disini juga warga perempuan rumah melakukan
tugas seperti memilin benang dan menganyam sambil duduk. Sedangkan dibagian
depan rumah bagian duru di hamparkan dea
(batu-batu datar) buat tempat duduk lelaki dan juga bekerja apabila tidak
hujan.
Kelaga
ae ialah balai-balai yang terletak
diatas balok-balok utama dan terletak sekitar 1,00 hingga 1,50 m diatas tanah.
Juga balai-balai ini dibedakan dalam bagian duru
dan wui. Empat balok utama (ae) yang mendukungnya serta dua balok
yang menopang balai-balai loteng terletak dengan pangkal atau “kepala” (katu) ke arah duru dan “ekor” (rulai)
ke arah wui. Adapun “kepala” dari
balok-balok itu dibiarkan mencuat keluar sedikit dan dipotong menyerupai
anjungan perahu. Makanan dihidangkan dan disantap diatas kelaga ae, warga lelaki dibagian anjungan dan perempuan dibagian
buritan.
Kelaga
damu (balai-balai loteng), letaknya
dibagian wui rumah. Loteng ini
dilindungi ketanga robe (penutup
gesek) terbuat dari daun kelapa,sehingga tidak tampak dari penglihatan mereka
yang duduk dibagian lelaki rumah. Bagian dalam loteng gelap dan terlindung
juga, tempat barang-barang yang termasuk urusan kaum perempuan, misalnya
makanan,benang,alat ikat dan tenun. Sebuah pintu loteng terdapat dekat pintu wui. Inilah wilayah perempuan sehingga
hanya warga perempuan yang boleh memasukinya, dan dalam hal tertentu hanya ina amu (ibu rumah) yakni istri kepala
keluarga.
Terdapat sejumlah tiang dirumah
sabu. Yang ditanam ditanah disebut geri,sedangkan
yang bertumpu diatas balok dinamai gela,yang
dibagi menjadi dua gela yakni gela bani (tiang perempuan) serta gela mone (tiang lelaki). Sedangkan dua
tiang utama dalam rumah sabu disebut taru
duru (tonggak anjungan) dan taru wui.
Upacara yang penting dalam rumah berlangsung kedua taru ini.
Taru
wui tidak boleh tampak oleh taru duru. Karena itu sebuah sekat
pemisah diletakkan ditengah bagian wui
untuk mencegah taru duru “melihat” rau wui. Gelapnya loteng juga mencegah
tiang buritan dari pandangan. Bagi wui yang
tidak dipisahkan oleh sekat disebut kopo.
Kegiatan memasak berlangsung didalam kopo
dan alat-alat masak di simpan. Bagian tepi “kanan” dan “kiri” balai-balai ini
disebut kelaga rubu (balai-balai
rusak).
Semua tiang rumah dipilih menurut
letaknya dalam hubungan dengan duru dan
wui. Tiang yang menopang kerangka
atap rumah dikedua bagian ujung rumah (kearah barat dan timur) disebut geri bubu (tiang moncong), yang juga
digolongkan dalam tiang moncong duru dan
wui. Kerangka atap dikedua bagian ini disebut kebaka dan kedua ujung
kerangka ini tidak saling ditemukan. Bagian ini oleh orang sabu dianggap
sebagai jalan untuk “napas” rumah. Atap dikedua bagian rumah disebut kaba ranga (pipi).
Besar rumah sabu diukur menurut
jumlah usuk, worena (besar) yaitu
kayu yang disandarkan dari bumbungan menurun ke “kanan” dan “kiri” sampai tepi
tiris. Jarak diantara kedua kayu usuk disebut roa nama yang juga digunakan untuk menyebut kerangka bagian dalam
dari perahu. Kayu reng, diletakkan melintang diatas usuk disebut badu. Daun atap rumah diikatkan kesana.
Jumlah kayu badu dibagian depan
(kanan) rumah selalu merupakan bilangan ganjil (9,11,21) dan jumlahnya satu
lebih banyak daripada badu dibagian
atap belakang atau kiri rumah, yang oleh karenanya selalu merupakan bilangan
genap.
2. Makna
rumah sabu
Perlambangan yang diberikan orang
sabu kepada pulau sabu dan kepada kampungnya dikenakan pula dalam pengaturan
rumah. Walaupun mereka tidak secara eksplisit mengungkapkan bahwa rumah adalah
sebagai perahu yang ditelengkupkan,baik bentuk ataupun nama bagian-bagian
tertentu dari rumah menyatakan asosiasi dengan makna yang terkandung dalam
perahu. Rumah mempunyai “anjungan” dan “buritan”, balok-balok alas balai-balai
dipotong mirip anjungan perahu. Istilah gela
digunakan baik untuk menyebut tiang dalam loteng maupun tiang layar perahu,
sementara istilah roa menunjuk baik
kepada bagian dalam atap rumah maupun pada bagian dalam perahu.
Selain itu, selain itu penduduk
sebuah kampong dan warga suatu rumah adalah warga dalam kelompok seperti halnya
penumpang dalam sebuah perahu. Makna sebagai makhluk hidup juga terungkap dalam
symbol yang dipakai dibagian-bagian tertentu rumah sabu. Sehingga rumah
mempunyai “kepala,ekor,daun leher,pipi,tempat bernapas,dada maupun rusuk”. Bagi
orang sabu sebuah rumah bukan sekedar bangunan fisik yang mempunyai fungsi praktis
melainkan juga mempunyai makna rohaniah. Dalam rangka upacara membangun rumah
artinya rumah itu diberi kehidupan,disi nyawa,bemanga. Begitu upacara selelsai rumah pun dianggap sudah punya bemanga.
Buat orang sabu semua benda yang
hidup punya bemanga. Dalam bulan daba sekali setahun diadakan upacara
yang juga disebut upacara daba yang
khusus buat anak-anak yang baru dilahirkan, jika seorang bayi meninggal padahal
belum mengalami upacara ini, ibunya mengambil segumpal tanah dari kuburannya
dan menyimpannya pada sarung yang ia kenakan, dengan harapan bahwa bemanga akan kembali untuk mengisi
perutnya itu dengan bayi lain. Begitulah maka rumah yang sudah diupacarai itu
dianggap mempunyai bemanga sehingga
penghuni amu akan hidup terus, tumbuh
serta berkembang biak.
Atas dasar pembangian ke dalam duru dan wui tadi itu, rumah dibagi
dalam setengah bagian “lelaki” dan sisanya lagi “perempuan”. Kegiatan kaum
lelaki berlangsung di duru, kegiatan
kaum perempuan di wui. Hal ini
menunjukkan prinsip structural yang benar-benar sental dalam budaya orang sabu.
Warga rumah (begitupun warga sebuah kampung) dihubungkan dengan seorang leluhur
menurut garis lelaki. Maka warga dari garis yang sama ini, udu (klen patrilinial), adalah keturunan dari seorang leluhur yang
disebut apu. Jika ada seorang pemuda
dari amu A mengawini gadis yang
semula berasal dari rumah A itu juga, disebut bale ma kedede katune (balik untuk memegang kepala balok utama).
Gadis itu kembali kerumah asal, dari mana ia dilahirkan di dunia.
Oposisi lain yang terkandung dalam
pembagian dua duru-wui adalah
terang-gelap,terbuka dan tertutup. Setengah rumah bagian duru terbuka buat semua warga rumah ataupun para tamu, dan buat
mereka disajikan makanan dibagian ini juga. Setengah bagian wui sebaliknya, tersembunyi dari bagian duru, sehingga yang duduk disana tidak
melihat apa yang terjadi di wui.
Singkatnya taru wui tidak boleh
tampak oleh taru duru. Segala upacara
diloteng lasim dilakukan oleh ina amu (ibu
rumah tangga) tidak boleh tampak oleh siapapun berlainan dengan segala upacara
di duru yang terbuka bagi siapa saja.
Loteng, kegelapan,diasosiasikan dengan kesuburan dan perlindungan buat
perempuan.
Rumah sabu masih dibagi dalam
depan-belakang atau kanan (kegana) –
kiri (keriu). Depan atau kanan
digolongkan sebagai kakak (a’a)
sedangkan belakang atau kiri tergolong adik (ari). Pembedaan ini juga terungkap dalam cara menghubungkan kayu taga batu, yang didepan menindih yang
belakang. Atas dasar ini pula kayu badu
depan lebih sebatang daripada yang dibelakang. Depan atau kanan dan ganjil
itulah sifat kakak yang superior, sedangkan belakang atau kiri dan genap
merupakan sifat adik yang inferior. Dalam menghubungkan kayu usuk (badu) dengan balok bubungan,usuk-usuk
depan dimasukkan ke dalam lubang-lubang balok bubungan lebih dahulu daripada
usuk-usuk belakang. Ini harus selalu begitu. Juga bahwa usuk depan terletak
kearah duru sedangkan usuk belakang
kea rah wui.
Asas-asas penataan dalam rumah sabu didasari sejumlah
asosiasi, yang skemanya adalah sebagai berikut :
Duru :
“anjungan”
-
Laki-laki
-
Terbuka, luar
-
Terang, putih
-
Konsumsi
-
Pangkal, asal mula
Wui : “Buritan”
-
Perempuan
-
Tertutup,dalam
-
Gelap, hitam/kelabu
-
Simpanan,timbunan
-
Ujung, pucuk
Kegana :
“Kanan”
-
Depan
-
Kakak
-
Ganjil
-
Lelaki
Keriu : “kiri”
-
Belakang
-
Adik
-
Genap
-
perempuan
Bahasa
pergaulan
Pulau Sabu secara pemerintahan termasuk Kabupaten Kupang,
namun dalam pembagian wilayah pesebarannya, bahasa sabu termasuk kelompok
bahasa Bima – Sumba. Bahasa Sabu mencakup dialek Raijua (di pulau
Raijua),dialek Mesara, Timu dan seba.
Masyarakat suku Sabu berbicara dalam
bahasa Sabu. Bahasa Sabu sendiri termasuk kelompok bahasa Bima-Sumba dari Nusa
Tenggara Barat. Bahasa Sabu mencakup dialek Raijua (di pulau Raijua), Mesara,
Timu dan Seba.
Sebelum memeluk agama Kristen, suku Sabu menganut agama tradisional suku, yaitu Jingitiu. Saat ini hampir seluruhnya suku Sabu memeluk agama Kristen Protestan. Namun, dalam keseharian kebanyakan orang Sabu masih terpengaruh oleh tradisi Jingtu. Norma kepercayaan mereka masih tetap berlaku dengan kelender adat yang menentukan saat menanam dan upacara lainnya.
Dalam tradisi agama tradisional Jingitiu, menerapkan ketentuan hidup adat atau uku, yang konon dipercayai mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka. Semua yang ada di bumi ini Rai Wawa (tanah bawah) berasal dari Deo Ama atau Deo moro dee penyi (dewa mengumpulkan membentuk mancipta). Deo Ama sangat dihormati sekaligus ditakuti, penuh misteri. Menurut kepercayaan mereka di bawah Deo Ama terdapat berbagai roh yang mengatur kegiatan musim seperti kemarau oleh Pulodo Wadu, musim hujan oleh Deo Rai.
Pembersihan setelah ada pelanggaran harus dilakukan melalui Ruwe, sementara Deo Heleo merupakan dewa pengawas supervisi. Upacara adat yang dilakukan harus oleh deo Pahami, orang yang dilantik dan diurapi. Upacara dilakukan dengan sajian pemotongan hewan besar. Kegiatan setiap upacara berpusat pada pokok kehidupan yakni pertanian, peternakan dan penggarapan laut. Karena itu selalu ada dewa atau tokoh gaib untuk semua kegiatan, termasuk menyadap nira. Kegiatan pada musim hujan berfungsi pada tokoh dewa wanita “Putri Agung”, Banni Ae, disamping dewa pemberi kesuburan dan kehijauan Deo manguru. Karena sangat bergantung pada iklim. Mereka memiliki 3 makluk gaib yakni liru balla (langit), rai balla (bumi) dan dahi balla (laut). Masyarakat Sabu juga memiliki pembawa hujan yaitu wa lole (angin barat), lou lole (selatan) dan dimu lole (timur). Dalam kepercayaan Jingitiu, banyak dewa atau tokoh gaib sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti petir dan awan. Lalu ada dewa mayang pada usaha penyadapan nira, dewa penjaga wadah penampung (haik) malah sampai haba hawu dan jiwa hode yang menjaga kayu bakar agar cukup untuk memasak gula Sabu.
Kampung masyarakat Sabu memiliki Uli rae, penjaga kampung, kemudi kampung bagian dalam gerbang Timur (maki rae) disebelahnya, serta aji rae dan tiba rae, (penangkiskampung) sama-sama melindungi kampung. Oleh karena itu setiap rumah dibangun harus dengan upacara untuk memberi semangat atau hamanga dengan ungkapan wie we worara webahi (jadikanlah seperti tembaga besi. Dalam setiap rumah diusahakan tempat upacara yang dilakukan sesuai musim dan kebutuhan, karena semua warga rumah yang sudah meninggal menjadi deo ama deo apu (dewa bapak dewa leluhur) diundang makan sesajen. Demikian juga terhadap ternak, selalu ada dewa penjaga, disebut deo pada untuk kambing serta dewa mone bala untuk gembalanya. Tetapi selalu ada saja lawannya. Karena itu, ada dewa perussak yang kebetulan tinggal dilat yakni wango dan merupakan asal dari segala macam penyakit. Hama tanaman, angin ribut dan segala bencana. Karena itu, harus dibuat upacara khusus untuk mengembalikannya ke laut supaya masyarakat terhindar dari berbagai bencana walaupun ada kepercayaan bahwa sebagai musibah itu merupakan kesalahanmanusia sendiri yang lalai membuat upacara adat. Umpamanya jika tidak membuat upacara untuk sang banni ae, maka sang putri ini akan memeras payudaranya yang menimpa manusia menimbulkan penyakit cacar.
Sebelum memeluk agama Kristen, suku Sabu menganut agama tradisional suku, yaitu Jingitiu. Saat ini hampir seluruhnya suku Sabu memeluk agama Kristen Protestan. Namun, dalam keseharian kebanyakan orang Sabu masih terpengaruh oleh tradisi Jingtu. Norma kepercayaan mereka masih tetap berlaku dengan kelender adat yang menentukan saat menanam dan upacara lainnya.
Dalam tradisi agama tradisional Jingitiu, menerapkan ketentuan hidup adat atau uku, yang konon dipercayai mengatur seluruh kehidupan manusia dan berasal dari leluhur mereka. Semua yang ada di bumi ini Rai Wawa (tanah bawah) berasal dari Deo Ama atau Deo moro dee penyi (dewa mengumpulkan membentuk mancipta). Deo Ama sangat dihormati sekaligus ditakuti, penuh misteri. Menurut kepercayaan mereka di bawah Deo Ama terdapat berbagai roh yang mengatur kegiatan musim seperti kemarau oleh Pulodo Wadu, musim hujan oleh Deo Rai.
Pembersihan setelah ada pelanggaran harus dilakukan melalui Ruwe, sementara Deo Heleo merupakan dewa pengawas supervisi. Upacara adat yang dilakukan harus oleh deo Pahami, orang yang dilantik dan diurapi. Upacara dilakukan dengan sajian pemotongan hewan besar. Kegiatan setiap upacara berpusat pada pokok kehidupan yakni pertanian, peternakan dan penggarapan laut. Karena itu selalu ada dewa atau tokoh gaib untuk semua kegiatan, termasuk menyadap nira. Kegiatan pada musim hujan berfungsi pada tokoh dewa wanita “Putri Agung”, Banni Ae, disamping dewa pemberi kesuburan dan kehijauan Deo manguru. Karena sangat bergantung pada iklim. Mereka memiliki 3 makluk gaib yakni liru balla (langit), rai balla (bumi) dan dahi balla (laut). Masyarakat Sabu juga memiliki pembawa hujan yaitu wa lole (angin barat), lou lole (selatan) dan dimu lole (timur). Dalam kepercayaan Jingitiu, banyak dewa atau tokoh gaib sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti petir dan awan. Lalu ada dewa mayang pada usaha penyadapan nira, dewa penjaga wadah penampung (haik) malah sampai haba hawu dan jiwa hode yang menjaga kayu bakar agar cukup untuk memasak gula Sabu.
Kampung masyarakat Sabu memiliki Uli rae, penjaga kampung, kemudi kampung bagian dalam gerbang Timur (maki rae) disebelahnya, serta aji rae dan tiba rae, (penangkiskampung) sama-sama melindungi kampung. Oleh karena itu setiap rumah dibangun harus dengan upacara untuk memberi semangat atau hamanga dengan ungkapan wie we worara webahi (jadikanlah seperti tembaga besi. Dalam setiap rumah diusahakan tempat upacara yang dilakukan sesuai musim dan kebutuhan, karena semua warga rumah yang sudah meninggal menjadi deo ama deo apu (dewa bapak dewa leluhur) diundang makan sesajen. Demikian juga terhadap ternak, selalu ada dewa penjaga, disebut deo pada untuk kambing serta dewa mone bala untuk gembalanya. Tetapi selalu ada saja lawannya. Karena itu, ada dewa perussak yang kebetulan tinggal dilat yakni wango dan merupakan asal dari segala macam penyakit. Hama tanaman, angin ribut dan segala bencana. Karena itu, harus dibuat upacara khusus untuk mengembalikannya ke laut supaya masyarakat terhindar dari berbagai bencana walaupun ada kepercayaan bahwa sebagai musibah itu merupakan kesalahanmanusia sendiri yang lalai membuat upacara adat. Umpamanya jika tidak membuat upacara untuk sang banni ae, maka sang putri ini akan memeras payudaranya yang menimpa manusia menimbulkan penyakit cacar.
SISTEM KEKERABATAN
Dalam
kehidupan sehari-hari, masyarakat suku Sabu hidup dalam kekerabatan keluarga
batih (ayah, ibu dan anak) disebut Hewue dara ammu. Beberapa
batih yang bersekutu dalam suatu upacara adat adalah keluarga luas, huwue kaba
gatti, dengan memiliki rumah adat sendiri berketurunan satu nenk atau Heidau
Appu. Klen kecil disebut Hewue Kerogo, merupakan gabungan beberapa Udu Dara
Ammu. Keturunan dua atau tiga nenek bersaudara, beserta cucu dan keturunannya
dipimpin Kattu Kerogo. Klen besar disebit Hewue Udu dipimpin oleh banggu
Udu.Secara struktural dalam strata masyarakat dikenal kedudukan tertinggi Hewue
Dara Ammu dengan pimpinannya Kattu Udu Dara Ammu yang memimpin upacara,
mengatur norma kehidupan, menjaga kesatuan dan persatuan keluarga. Ia pemimpin
yang pandai dan bijaksana berperan penting dalam kehidupan masyarakat.